Tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta menebar janji selama masa kampanye. Pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni misalnya akan memberikan alokasi dana sebesar Rp 1 miliar per RW dan bantuan Rp 5 juta bagi warga tak mampu.

Duet Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Uno berjanji akan menghentikan reklamasi Teluk Jakarta. Lalu seberapa besar efek janji-janji tersebut dalam mendongkrak elektabilitas mereka yang akan bersaing di Pilgub DKI 2017?

Lembaga Survei Indonesia (LSI) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa beberapa materi kampanye dari pesaing pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat itu tampak tidak memiliki efek elektoral yang sangat kuat. “Janji-janji kampanye dari pesaing pasangan petahana yang diserap publik, terutama yang beririsan dengan kebijakan yang sudah dijalani pemerintahan saat ini, tidak memiliki efek elektoral yang kuat sehingga unggul dari pasangan petahana. Pada saat ini publik kembali rasional dalam menentukan pilihannya,” kata Direktur Eksekutif LSI Kuskridho Ambardi dalam pemaparan hasil surveinya di di Hotel Century Park Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (15/12/2016).

Kuskridho mencontohkan, soal janji dana Rp 1 miliar per RW setiap tahun dari Agus Yudhoyono-Sylviana Murni kurang mendapatkan respons positif dari warga DKI yang punya hak pilih.

“Dari sekitar 50% warga yang aware dengan janji kampanye tersebut, mayoritas kurang menanggapi positif bahwa janji tersebut akan ditepati jika mereka (Agus-Sylvi) terpilih, 56% tidak yakin,” kata Kuskridho.

Begitu juga dengan janji kampanye dari pasangan Anies-Sandi tentang penghentian reklamasi Teluk Jakarta dan program KJP Plus. “Di antara warga yang aware dengan janji kampanye tersebut, efek elektoralnya belum signifikan bagi Anies-Sandi,” papar Kuskridho.

Menurut dia, alasan warga DKI memilih pasangan gubernur dan wakil gubernur mengalami perubahan signifikan. “Pada bulan lalu, sebagian besar warga memilih berdasarkan alasan “orangnya tgeas atau berwibawa.” Alasan ini memiliki asosiasi yang kuat kepada Agus Harimurti. Sekarang warga lebih banyak memilih berdasarkan alasan sudah ada bukti nyata kerjanya,” kata Kuskridho.

Dalam surveinya, LSI mengambil 800 sampel untuk dilakukan wawancara secara tatap muka. Populasi survei ini seluruh warga negara Indonesia di Provinsi DKI Jakarta yang memiliki hak pilih, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun. Survei dilakukan dari tanggal 3 sampai 11 Desember 2016.

Metode yang digunakan multistage random sampling dengan margin of error lebih kurang 3,5 persen. Quality control hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen.  PT BESTPROFIT

Advertisements