Eko Susilo Hadi menerima suap Rp 2 miliar terkait proyek satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla). Uang itu diduga agar Deputi Bidang Informasi Hukum dan Kerja Sama Bakamla itu membantu PT Melati Technofo Indonesia (MTI) memenangkan tender.

“Iya membantu memenangkan PT MTI,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (15/12/2016).

Agus mengatakan bahwa lelang proyek itu telah selesai. PT MTI merupakan pemenang lelang itu dari 41 peserta lelang.

“Kalau ini lelangnya sudah selesai,” kata Agus.

Uang Rp 2 miliar dalam pecahan uang USD dan SGD itu disebut KPK sebagai pemberian pertama dari commitment fee yang dijanjikan sebesar Rp 7,5 persen dari nilai proyek. Saat dicek di lpse.bakamla.id, nilai proyek satelit monitoring sebesar Rp 402 miliar.

Namun sebelumnya Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menyebut bahwa nilai proyek itu telah dipangkas dalam APBN-P 2016 menjadi sekitar Rp 200 miliar. KPK pun masih mempelajari tentang besaran commitment fee yang dijanjikan kepada Eko apakah dari nilai proyek awal atau nilai proyek setelah dipotong.

Selain Eko, ada 3 tersangka lainnya yang telah ditetapkan penyidik KPK sebagai pemberi suap. Ketiganya yaitu Direktur PT MTI Fahmi Darmawansyah dan 2 pegawainya yaitu Hardy Stefanus dan Muhammad Adami Okta.

Namun, hanya Fahmi saja yang masih belum diketahui keberadaannya. KPK pun mengimbau agar Fahmi segera menyerahkan diri. BESTPROFIT

Advertisements